journal of a learner

one effort to write. one effort to be a lifelong learner

Thursday, December 23, 2010

Piring Indo vs Piring Cina

Ini pengalaman pribadi yaa..
Waktu saya nikah, banyak sekali yang menghadiahi saya sprei. Yah, hadiah standar orang menikah mungkin ya, praktis dan hampir pasti bermanfaat. Ini memberi saya pelajaran untuk tidak menghadiahi sprei pada teman yang menikah, kecuali sprei dengan bedcover yang dibeli dalam rangka patungan. Anyway, begitu banyaknya yang menghadiahi saya sprei, tapi tidak ada yang menghadiahi saya piring! Ada sih yang memberi set cangkir berikut piring kecilnya (saucer), tapi tetap aja gak bisa dipakai untuk makan. Jadi, dua hari setelah nikah dan kami sudah menempati rumah kontrakan (di pekarangan belakang rumah ortu), saat hari masih pagi dan saya sedang berusaha menghabiskan bubur ayam di warung kopi, suami menyetop tukang perabot yang keliling dengan mobil pick-up. Piring, mangkok, gelas, sendok, mmm… apalagi ya? Ember, kemoceng, bak air, keranjang, suami bertanya apakah ada yang kurang. Selesai sarapan di warung kopi kami pun menggotong-gotong perabot ke rumah kami. Itulah penanda kedua bahwa kami pengantin baru, penanda bagi para tetangga. Penanda pertamanya adalah, suka bergandengan tangan. Aduh, mulai ngelantur.

Waktu itu, karena saya belum tune-in banget bahwa saya sedang membangun rumah tangga baru, dan karena kami masih akan tinggal terpisah selama beberapa bulan, saya belum dapat mengira-ngira berapa jumlah piring-gelas-mangkok yang saya butuhkan. Tempat untuk menyimpannya saja belum ada. Makan masih sering di luar karena belum punya alat masak. Kami juga belum bicara masalah detail keuangan sehingga saya belum dapat mereka-reka kemampuan finansial suami saat itu, apalagi pengeluaran besar-bagi masing-masing kami-baru saja terjadi. Jadilah saya hanya membeli tiga buah piring dan tiga buah gelas, mangkok nanti dulu lah…

Di kemudian hari, saat saya mulai sedikit-sedikit memasak untuk suami, saya menyadari piring tiga buah sama sekali tidak cukup. Piring-piring milik orang tua pun jadi korban peminjaman. Maka saat belanja bulanan berikutnya, saya membeli lagi tiga buah piring. Dan kali itu, saya juga membeli mangkok.

gambar diambil dari sini

Piring yang saya beli kali pertama, bertuliskan made in China, kita sebut saja piring China. Piring yang saya beli kali kedua, bertuliskan made in Indonesia, kita sebut saja piring Indo. Setelah enam bulan menikah, saya mendapat pengalaman bersama piring-piring ini. Piring Indo, lebih mudah dibersihkan tinimbang piring China. Kalau kita makan nasi tanpa sayur berkuah di satu piring, kering gitu, biasanya bekas nasinya akan mengering di permukaan piring. Jika tidak langsung dicuci, bekas nasi itu akan makin mengeras dan sulit dibersihkan. Berdasar pengamatan saya, hal itu tidak terjadi pada piring Indo. Cukup saya basuh dulu sebelum saya usap dengan spons bersabun, bekas nasi itu langsung lenyap. Sebaliknya, pada piring China, bekas nasi itu harus saya gosok-gosok beberapa kali baru dia meluruh.

Piring Indo, tidak mudah pecah. Biasanya kalau saya memasak, satu kompor saya gunakan untuk menggoreng dan kompor satunya saya pakai untuk memasak sayur. Berhubung saya belum punya alat peniris minyak, saya mengangkat gorengan menggunakan piring beralas kertas koran. Kalau sedang terburu-buru, setelah mengangkat gorengan ke piring dan memasukkan bahan gorengan sesi berikutnya ke minyak panas, saya akan segera beralih ke sayur. Piring berisi gorengan paling gampang saya letakkan di samping kompor. Nah, kan panas tuh. Tapi piring Indo tidak ada yang pecah sampai saat ini. Sebaliknya, piring China pernah saya letakkan di sisi kompor, tidak pecah saat itu. Kemudian saya letakkan agak jauh dari kompor, tapi masih di area dapur. Tidak saya pindahkan lagi hingga keesokan harinya. Dan hari itu saat saya memasak saya mendengar suara “Tang!” yang keras, seperti suara dua batang logam berat diadu. Ternyata suara itu datang dari piring China yang kini terbelah dua.

Kini piring China saya tinggal satu. Saya lupa nasib piring China yang satu lagi. Entah pecah karena tertumpuk benda lain atau karena panas kuah mendidih. Yang jelas piring Indo saya masih utuh, tiga buah. Jadi saat kemarin belanja bulanan lagi, saya bilang pada suami, “Cari piring yang buatan Indonesia aja ya, lebih kuat. Jangan yang buatan China.” Suami saya menjawab,”Iya, orang Indonesia udah pinter kok bikin piring.”

:)

4 Comments:

At 12:47 PM , Blogger Erma said...

jadi, cintailah ploduk ploduk Indonesia!

 
At 7:44 AM , Blogger Winy said...

tapi ga halus ploduk mas mata-mata ya koh..

 
At 12:11 AM , Anonymous munahnugroho said...

kenapa piring china susah dibesihkan ?

 
At 8:28 PM , Blogger Winy said...

ndak tau juga mon, padahal cara nyucinya sama. terutama untuk kotoran yg sudah mengering ya..

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home